<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>N4wari's Weblog</title>
	<atom:link href="http://n4wari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://n4wari.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Jan 2011 02:14:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='n4wari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>N4wari's Weblog</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://n4wari.wordpress.com/osd.xml" title="N4wari&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://n4wari.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Layang-Layang</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2009/04/16/layang-layang/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2009/04/16/layang-layang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 06:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar kata layang-layang mungkin akan membawa ingatan sebagian dari kita pada masa kecil. Yah.. layang-layang merupakan salah satu bentuk permainan yang mengikuti suatu siklus musiman tertentu. Tidak diketahui secara pasti siapa yang membuat kesepakatan siklus permainan itu, namun yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah ketika suatu wilayah desa tertentu  banyak anak-anak bermain kelereng, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=204&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar kata layang-layang mungkin akan membawa ingatan sebagian dari kita pada masa kecil.  Yah.. layang-layang merupakan salah satu bentuk permainan yang mengikuti suatu siklus musiman tertentu. Tidak diketahui secara pasti siapa yang membuat kesepakatan siklus permainan itu, namun yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah ketika suatu wilayah desa tertentu  banyak anak-anak bermain kelereng, maka hampir semua anak-anak di wilayah desa yang lain juga akan bermain kelereng. Begitu halnya dengan permainan layang-layang, ketika musimnya telah tiba, anak-anak desa pinggiran akan sibuk mencari bambu sebagai bahan layangan ke pekarangan, tegalan bahkan sampai hutan disekitar mereka tinggal, mencari kertas minyak, benang dan tentunya disibukkan membuat layang-layang tersebut.</p>
<p>Ada keasikan tersendiri dalam proses permainan layang-layang ini,  anak-anak yang tingal di pelosok pedesaan mungkin akan lebih menyukai jika layangan itu dibuat sendiri. Hal ini dianggap oleh mereka lebih mengasikkan jika dibandingkan dengan membeli layangan yang sudah jadi. Jika dipikir-pikir proses pembuatannya merupakan proses pengetahuan. Jenis bambu sebagai bahan rangka akan menentukan bentuk layangan.  Layangan yang baik harus simetris, ukuran bagian atas dan bagian bawah harus proporsional, demikian juga besar rangka dan jenis kertas yang dipakai akan menentukan apakah layangan akan handal diudara atau tidak. Jenis dan  bahan gelasan benang juga harus diperhatikan agar layangan tidak mudah putus mengudara. Pada saat memainkannya, cara menaikkan layangan juga mengandung unsur pengetahuan, ibarat pesawat take off maka harus meggunakan jarak tertentu agar layangan bisa mengudara. Begitupun ketika telah mengudara, pemain layang-layang harus pandai menarik dan mengulur benang agar layangan tidak mudah putus ketika menghadapi tekanan angin maupun serangan dari layangan lawan.</p>
<p>Ibarat musim layangan, siklus kehidupan yang kita hadapi pada saat ini adalah globalisasi. Kaum liberal yang begitu menguasai dunia dengan teknologinya telah menginisiasi globalisasi ini dengan berbagai turunan yang nyata seperti hak asasi manusia, ekonomi kapitalis, demokratisasi, desentralisasi dll. Disamping itu juga terdapat turunan-turunan yang samar-samar diantaranya <em>collaboration</em>, <em>social responsibility</em> dll. Semua turunan itu dibungkus dalam isu-isu global diantaranya <em>good governance</em>, <em>clean development mechanism</em>, <em>terorism</em>, <em>poverty</em>, <em>climate change</em> sampai pada <em>food and energy crisis</em>. Seperti halnya musim layangan, isu-isu ini begitu marak dinegara-negara pinggiran. Senarai bersambut negara-negara pinggiran tersebut juga sangat asik menikmati musim permainan ini.</p>
<p>Jika dicermati, ada sisi menarik dari setiap isu tersebut, kita contohkan saja negara pinggiran itu adalah negara yang kita tempati saat ini. Isu <em>good governance</em> misalnya telah memberikan peranan yang penting dalam menciptakan proses demokratisasi dan desentralisasi di negara ini. Perubahan rejim dari orde baru menjadi era roformasi dirasakan dalam kadar rasa yang berbeda ditiap level pemerintahan maupun sektor pembangunan. Jika menyangkut rasa memang tiada parameter obyektif yang dapat diajukan, namun yang harus disadari adalah kemampuan komponen bangsa dalam menyerap sebanyak-banyaknya sisi positif dari isu-isu tersebut dan mengantisipasi sebaik-baiknya dampak negatif yang akan ditimbulkan. Sisi positif dari isu tersebut diantaranya pemerataan pembangunan, sedangkan sisi negatifnya adalah munculnya egoisme kedaerahan yang dapat berujung pada perpecahan bangsa.</p>
<p>Setiap isu harus disikapi obyektif dengan berbagai persiapan yang matang. Ibaratnya permainan layang-layang sebagaimana disebut diatas, dibutuhkan sumberdaya manusia yang handal yang mampu merangcang dan memainkan layangan agar mengudara dengan baik sehingga tidak terombang-ambing dan mudah putus diudara. Sisi pengetahuan mulai dari level epistimologi sampai ontologinya idealnya mampu tercermin dalam sosok-sosok penggerak bangsa ini dalam menetapkan arah pembangunan. Jika semangat meningkatkan kapasitas dengan dasar pengetahuan menjadi prinsip komponen bangsa dalam berkarya, dapat dikatakan komponen tersebut memiliki kapabilitas yang tinggi.</p>
<p>Pada kondisi tertentu pengetahuan harus ditempatkan pada kondisi yang tepat untuk menangkap sisi positif  dan mengantisipasi sisi negatif dari globalisasi tersebut. Menempatkan pengetahuan pada kondisi yang tepat merupakan salah satu bentuk manajeman resiko yang bijaksana. Tidak semua pengetahuan secara mentah-mentah dapat dipaksakan pada satu kondisi, kejelian seseorang mengadaptasikannya pada suatu kondisi tertentu merupakan cerminan sosok yang <em>acceptable</em>.</p>
<p>Selain itu setiap pengetahuan harus sinergi dengan kekuatan lain yang menguasai kehidupan ini. Kekuatan lain itu adalah Tuhan YME, keimanan dan ketagwawan yang hakiki kepada Tuhan YME akan mengarahkan kita untuk selalu berbuat baik dan  menempatkan  pengetahuan   dalam  kerangka ibadah. Seseorang yang menempatkan pengetahuan dalam kerangka ibadah merupakan cerminan sosok yang memiliki keimanan dan ketagwaan yang tinggi .</p>
<p>Dalam era globalisasi dengan berbagai isu yang dihembuskan oleh kaum liberal, bangsa ini memerlukan good leadership pada setiap level pemerintahannya. Setidaknya good leadership itu meliputi aspek <em>kapabilitas</em>, <em>acceptabilitas</em>, <em>keimanan dan ketagwaan</em>. Harapan kita adalah  ketiganya tercermin dalam sosok-sosok pengerak dan komponen bangsa ini, dengan demikian akan melahirkan karakter bangsa yang tangguh menyongsong era globalisasi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=204&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2009/04/16/layang-layang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Jiwa Yang Mandiri</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/24/membangun-pribadi-yang-mandiri/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/24/membangun-pribadi-yang-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 09:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah SWT. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kita. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri. Satu hal yang telah hilang dari bangsa kita adalah harga diri. Betapa kita sangat bergantung kepada negara lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=118&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah SWT. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kita. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri.<span id="more-118"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Satu hal yang telah hilang dari bangsa kita adalah harga diri. Betapa kita sangat bergantung kepada negara lain untuk pinjaman dan investasi. Tak aneh bila negara kita memiliki banyak utang sehingga mudah dipermainkan oleh negara yang meminjami utang tersebut.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Mengapa semua ini terjadi? Jawabnya, sebagian besar kita terlalu sibuk membangun aksesoris duniawi yang dianggap serba berharga. Kita tidak sibuk membangun harga diri. Tidak mengherankan apabila ada orang yang jabatannya tinggi, tapi perbuatannya rendah dan nista. Atau ada yang hartanya banyak, tapi jiwanya miskin. Kita terlalu menganggap topeng dunia sebagai sumber kemuliaan dan harga diri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sudah menjadi keniscayaan, setiap kita bergantung kepada selain Allah, pasti kita akan takut kalau sandaran itu diambil orang. Bila kita dengan sepenuh hati bergantung kepada Allah SWT, maka yakinlah bahwa Allah tidak akan mengabaikan orang yang bersungguh-sungguh berharap kepada-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman, <em>“Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta</em>”. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Dari sini jelas bahwa kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan sejati. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri. Orang yang mandiri, hidupnya akan bebas dan merdeka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Keuntungan lain dari sikap mandiri adalah tumbuhnya rasa percaya diri. Kemandirian akan sumber kekuatan dan vitalitas dalam perjuangan. Orang yang percaya diri bisa melakukan pekerjaan jauh lebih banyak, kata-katanya jauh lebih bermakna, dan waktunya akan jauh lebih efektif daripada orang selalu bergantung kepada orang lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Dengan bersikap mandiri hidup akan terasa lebih tenang. Seorang istri tidak akan pernah khawatir ditinggal oleh suaminya, bila ia memiliki sikap mandiri. Ia tahu bahwa semua rezeki sudah diatur secara adil oleh Allah SWT. Tak ada satu pun makhluk kecuali sudah ditetapkan rezekinya. Tugas kita adalah menjemput dan mencari berkah dari karunia Allah SWT tersebut. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kita harus mulai bangkit menjadi bangsa yang mandiri. Bangsa yang mandiri tidak akan pernah terwujud selama pribadi-pribadi yang menyusun bangsa tersebut tidak pernah belajar menjadi pribadi yang mandiri. Apa kuncinya? Pertama, mandiri adalah sikap mental. Jadi seseorang harus memiliki tekad kuat untuk menjadi orang yang mandiri. Dalam hidup yang hanya sekali ini, kita harus terhormat dan jangan menjadi budak dari apapun selain Allah SWT. Tekadkan terus untuk selalu menjaga kehormatan diri dan pantang menjadi beban. Andai pun hidup kita membebani orang lain, kita harus berusaha membalas dengan apa-apa yang bisa kita lakukan. Ketika kita membebani orang tua, maka harga diri kita adalah membalas kebaikan mereka. Begitupun kepada guru, teman, atau tetangga. Jangan sampai diri kita terhina karena menjadi benalu atau peminta-minta yang hanya bisa menyusahkan orang lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kedua, kita harus memiliki keberanian. Berani apa? Berani mencoba dan berani memikul risiko. Hanya dengan keberanian orang bisa bangkit untuk mandiri. Tidak pernah kita berada di atas tanpa terlebih dahulu memulai dari bawah. Adalah mimpi menginginkan hidup sukses tanpa mau bersusah payah dan berkorban.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sungguh, dunia ini hanyalah milik para pemberani. Kesuksesan, kebahagiaan, dan kehormatan sejati hanyalah milik pemberani. Orang pengecut tidak akan pernah mendapatkan apa-apa karena ia melumpuhkan kekuatannya sendiri. Kejarlah dunia ini dengan keberanian. Lawanlah ketakutan dengan keberanian. Takut gelap, berjalanlah di tempat gelap. Takut berenang, segeralah menceburkan diri ke air. Semakin kita mampu melawan rasa takut, rasa malas, dan rasa tidak berdaya, maka akan semakin dekat pula keberhasian itu dengan diri kita. Semakin sering kita melawan rasa takut, insya Allah keberanian akan muncul perlahan-lahan. Tentu semua ada risikonya, tapi inilah harga yang harus kita bayar dalam mengarungi hidup. Kalau kita tidak mau membayar harganya, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Ketiga, nikmatilah proses. Segalanya tidak ada yang instan, semua membutuhkan proses. Menjalani proses adalah sunatullah. Negeri ini tidak mungkin berubah dalam sehari atau dua hari. Kita harus belajar menikmati proses perjuangan, menikmati tetesan keringat dan air mata. Perjuangan adalah nilai kehormatan kita yang sesungguhnya. Kita jangan terlalu memikirkan hasil. Tugas kita adalah melakukan yang terbaik. Allah tidak akan memandang hasil yang kita raih, tapi Ia akan memandang dan menilai kegigihan kita dalam berproses. Keterpurukan yang menimpa bangsa kita, salah satu penyebabnya adalah karena kita ingin segera mendapatkan hasil. Padahal, tidak mungkin ada hasil, tanpa memperjuangkannya terlebih dahulu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kita tidak tahu kapan negeri ini akan bangkit. Tetapi bagaimana pun kita harus memulai dengan sesuatu. Ingatlah selalu kisah seorang kakek yang dengan semangat menanam pohon kurma. Ketika ditanya untuk apa ia melakukan semua itu, ia menjawab, “Bukankah kita makan kurma sekarang ini karena jasa orang-orang yang sudah meninggal. Kenapa kita tidak mewariskan sesuatu untuk generasi sesudah kita?”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Namun, jangan sampai kegigihan dan kemandirian yang kita lakukan mendatangkan rasa ujub akan kemampuan diri. Proses kemandirian yang sejati harus membuat kita tawadhu, rendah hati. Sertailah kegigihan kita untuk mandiri dengan rasa tawadhu dan tawakal kepada Allah SWT, karena tidak ada sedikit pun kekuatan dalam diri kita kecuali dengan kekuatan dari Allah Yang Mahakuat. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Intinya, kemandirian bukan untuk berbangga diri, tapi harus membuat kita lebih memiliki harga diri, bisa berprestasi, dan tidak membuat kita tinggi hati. <em><span style="font-family:Arial;">Wallahua’lam bish-shawab</span></em>. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#6b6b6b;">( KH Abdullah Gymnastiar )</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=118&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/24/membangun-pribadi-yang-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Cabai</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/22/belajar-dari-cabai/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/22/belajar-dari-cabai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 00:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Cabai sebuah tanaman khas yang kehadirannya selalu dinantikan oleh ummat manusia. Tanaman ini unik kerena memiliki nilai elastisitas tinggi yang merupakan salah satu penyumbang inflasi terbesar. Apabila harga cabai murah, maka sangat beruntunglah orang yang menanamnya pas harga itu. Orang akan cenderung meninggalkan usaha pada saat suatu produk memiliki harga murah. Seseorang yang tetap konsisten [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=98&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/cabai.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-99" title="cabai" src="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/cabai.jpeg?w=118&#038;h=106" alt="" width="118" height="106" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cabai sebuah tanaman khas yang kehadirannya selalu dinantikan oleh ummat manusia. Tanaman ini unik kerena memiliki nilai elastisitas tinggi yang merupakan salah satu penyumbang inflasi terbesar. Apabila harga cabai murah, maka sangat beruntunglah orang yang menanamnya pas harga itu. Orang akan cenderung meninggalkan usaha pada saat suatu produk memiliki harga murah. Seseorang yang tetap konsisten menanam cabai disaat harga yang murah, maka ketika panen akan menikmati harga produk yang tinggi karena hanya sedikit orang yang memanennya pada waktu itu. <span id="more-98"></span><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cabai juga memiliki nilai konsumsi yang unik, suatu saat seseorang terserang usus buntu gara-gara makan cabai kemudian dia berkata “aku kapok makan cabai”. Namun setelah usus buntu yang dideritanya sembuh, dia terpaksa harus menarik kata-katanya dan berujar pada istrinya “Bu sayurnya pakai cabai yang banyak ya biar pedas” .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kedua ilustrasi tersebut bisa ditarik dalam kehidupan kita. Situasi pertama menggambarkan bahwa manusia cenderung mengalami kebimbangan dalam melangkah, terutama pada saat mengalami situasi yang sulit pada dirinya.  Kebimbangan tersebut berupa upaya konversi nilai opportunity. Walaupun nilai ini terkadang keluar dari pakem yang mereka yakini, namun karena desakan hati terpaksa mengalami konversi.Sebagai contoh seseorang yang tengah mengalami masa sulit dalam himpitan ekonomi, keretakan rumah tangga, dsb, <span> </span>terkadang tidak bisa mengambil hikmah dibalik kesulitan yang dialaminya, mereka merasa terbebani dengan himpitan yang dialaminya sehingga sulit baginya untuk bersyukur dan tetap ikhtiar dan istiqomah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ada baiknya kita menyimak Firman Allah QS Al-Baqarah 286 : “<em>Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia (mendapat pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa) “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan<span> </span>kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan pada orang-orang sebelum kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami…</em>.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika kita kembali pada kasus cabai diatas, seseorang yang menanamnya secara kontinyu suatu saat nanti pasti dia akan mendapat hasil besar yang tidak dinikmati oleh petani yang tidak menanamnya. Contoh diatas setidaknya bisa menjadi bahan renungan tentang sifat konsisten kita terhadap rasa syukur atas segala rahmat yang diberikan oleh Allah SWT baik yang berupa kebahagiaan maupun kesedihan. Menyimak dari kutipan Ayat di atas jelaslah bahwa Allah SWT telah memperhitungkan kadar beban kehidupan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada hambaNya. Dengan menyadarinya akan menyebabkan kita tetap menikmati kehidupan dengan penuh rasa syukur dalam kondisi apapun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesugguhnya azab-Ku sangat pedih&#8221;.</em> (QS. <span> </span>Ibrahim: 7).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Rasa syukur ini dapat diawali dari hal yang paling kecil tapi mendasar yaitu mensyukuri terhadap kondisi kita yang masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara segar dan memiliki panca indera yang lengkap sehingga tetap mampu melaksanakan usaha sungguh-sungguh dan berserah diri kehadiratNya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan dia telah jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan fikiran tetapi sedikit sahaja yang bersyukur&#8221;. </em><em><span style="font-style:normal;">( QS As-sajdah: 9)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika kita kembali kepada cerita cabai diatas, kondisi kedua menggambarkan bahwa seseorang terkadang juga akan dihadapkan dengan sifat lalai terhadap rasa syukur ini ketika mereka telah keluar dari beban hidup yang dihadapiNya. Banyak dari golongan ini keluar dari jalanNya, kemudian berupaya mempertahankan kenikmatan yang didapat dengan berbagai cara. Ketakutan akan kehilangan kenikmatan didunia kemudian  menjadi awal mula seseorang jatuh kembali pada himpitan dan kesulitan hidup. Kita bisa melihat bagaimana seorang penguasa yang dahulunya dari rakyat jelata penuh himpitan ekonomi, kemudian oleh Allah SWT diberikan kekuatan sehingga menjadi seorang penguasa. Namun setelah menjadi penguasa dia berbuat curang untuk memperkaya dirinya dengan kolusi dan korupsi. Hidupnya kemudian dihabiskan dalam penjara, harta bendanya disita oleh negara atas segala kesalahan yang diperbuatnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Renungan ini saya dapat ketika saya sedang menanam cabai dipekarangan rumah yang saya tempati. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi kita agar tidak hanya pandai “menanam cabai” tapi juga pandai “menanam rasa syukur” kepada Allah SWT secara kontinyu dan konsisten sepanjang kehidupan yang kita jalani didunia ini…amiin. [naw]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=98&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/22/belajar-dari-cabai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/cabai.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">cabai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pekarangan dan Tanaman Pangan</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/18/pekarangan-areal-tanaman-pangan-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/18/pekarangan-areal-tanaman-pangan-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 18:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Kembali menyambung cerita dari Jambi sebagaimana saya posting dalam tulisan sebelumnya. Kali ini saya memasuki Desa Rantau Panjang di Kecamatan Batangasai, Kabupaten Sarolangon. Sebuah desa yang untuk mencapainya saja harus ada semangat yang ekstra. Betapa tidak, selain jalannya yang terjal, juga kerena kondisinya yang rusak parah. Memasuki wilayah desa ini, rumah-rumah penduduk berjejer rapi ditepi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=87&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="alignleft size-full wp-image-88" title="tanaman" src="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/tanaman.jpg?w=200&#038;h=150" alt="" width="200" height="150" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kembali menyambung cerita dari Jambi sebagaimana saya posting dalam tulisan sebelumnya. Kali ini saya memasuki Desa Rantau Panjang di Kecamatan Batangasai, Kabupaten Sarolangon. Sebuah desa yang untuk mencapainya saja harus ada semangat yang ekstra. Betapa tidak, selain jalannya yang terjal, juga kerena <span> </span>kondisinya yang rusak parah. Memasuki wilayah desa ini, rumah-rumah penduduk berjejer rapi ditepi aliran sungai Batangasai yang rantau (tenang), karena areal yang rantau ini relatif panjang, jadilah kawasan ini disebut Rantau Panjang.<span id="more-87"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Yang saya amati adalah di depan rumah-rumah penduduk tersedia banyak pot, baik yang berasal dari ember bekas maupun yang terbuat dari kayu. Semula saya mengira yang ditanam dalam pot tersebut adalah tanaman hias. Namun setelah mendekat, ternyata isi pot adalah tanaman tomat, cabai, mentimun, terong, sawi, bayam, bawang daun, bawang merah dan beraneka ragam tanaman palawija dan tanaman obat lainnya. Saya bertanya-tanya, kenapa mereka tidak menanamnya di ladang saja ?, padahal lokasinya relatif dekat dengan rumah mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah saya menanyakan secara detail, diketahui bahwa situasi ladang yang mereka miliki tidak memungkinkan untuk ditanami dengan tanaman jenis palawija tersebut. Mereka lebih memilih menanami ladang tersebut dengan jenis tanaman keras baik komersial (kayu jenis meranti) maupun jenis MPTS (karet, durian). Pada lahan-lahan ditepi sungai oleh mereka ditanami tanaman padi yang hanya bisa diolah pada musim kemarau saja, sedangkan pada musim hujan akan terganggu oleh meluapnya aliran sungai Batangasai. Tanaman palawija yang mereka tanam dalam pot di sekitar pekarangan rumah digunakan untuk<span> </span>kebutuhan hidup sehari-hari dan jika hasilnya lebih akan dijual kepasar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sepulang dari Jambi, saya begitu tertegun karena kita dihadapkan pada even internasional bertajuk krisis pangan dan energi. Beberapa tokoh bahkan memberikan pandangan dalam skala besar untuk mengatasi permasalahan ini. Namun sejauh ini, saya belum melihat aksi mikro nyata yang kita perbuat untuk mengantisipasi permasalahan krisis pangan ini. Pertanyaannya, apakah kita harus selalu menunggu bantuan internasional untuk melangkah?.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menyoroti tentang <span> </span>pekarangan rumah yang kita tempati khususnya diwilayah perkotaan. Berkaca pada pengalaman di Jambi oleh masyarakat desa yang jauh akan akses pendidikan dan pengetahuan, tiada salahnya jika kita mencoba melihat kembali apa isi pekarangan dirumah kita sekarang?. Kebanyakan isi pekarangan rumah kita adalah tanaman hias yang hanya bisa dinikmati keindahannya, bahkan masih banyak lahan-lahan pekarangan yang tertidur alias belum dimanfaatkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berkaca pada daerah Jambi, mengapa kita harus dipusingkan dengan ketakutan krisis pangan, sedangkan disatu sisi kita memiliki banyak potensi yang bisa kita gali di sekitar rumah yang kita tempati. Pada lahan pekarangan yang relatif sempit, kita bisa menggunakan metode vertikultur, yaitu tanaman ditanam secara bertingkat sehingga tidak memakan tempat. Pembuatan tanaman dalam pot menyebabkan kita dapat dengan mudahnya untuk melakukan manipulasi lingkungan sehingga produktivitasnya menjadi bisa lebih ditingkatkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beberapa jenis tanaman yang bisa kita usahakan meliputi jenis palawija, jenis tanaman obat, jenis tanaman buah dalam pot (mangga, jambu air, jambu biji, jeruk nipis, sawo dll), jenis jamur, anggur, strawberi <span> </span>dan sebagainya. Dengan manipulasi lingkungan semua jenis tanaman sangat memungkinkan untuk dikembangkan di areal pekarangan rumah kita. Kegiatan ini dapat dijadikan suatu ajang pembelajaran diri untuk belajar mengenali karakter budidaya tanaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dilihat dari sisi psikologis, kebiasaan kita mengelola tanaman akan semakin mendekatkan kita pada kondisi yang lebih alami. Merawat tanaman pangan sebelum atau setelah pulang dari kantor atau tempat kerja akan membuat kita bisa lebih fresh karena secara tidak langsung kita telah menginteraksikan otot dan pikiran kita dengan tanaman. Sedangkan si tanaman sendiri akan memberikan energi positif pada kita berupa oksigen yang kita hirup ketika mendekatinya. Ketika tanaman telah berbuah dan panen, akan terasa ada suatu kebanggaan tersendiri pada diri kita, setidaknya prinsip “siapa menanam akan memetik hasilnya”, seolah telah memberikan kita keayoman dan ketenangan batin. Hal inilah yang mungkin menyebabkan para pelaku kegiatan ini serasa tampak lebih awet muda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Situasi ini akan berbeda sekali, ketika kita setiap hari hanya disibukkan dengan pekerjaan saja. Pikiran digunakan tanpa henti, otot terus dipaksa bekerja secara kasar <span> </span>tanpa kelembutan. Semuanya akan menyebabkan kita serasa tidak fresh, mendapat banyak tenanan (stress) dan pada akhirnya akan membuka pintu bagi datangnya berbagai macam penyakit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berbicara masalah pekarangan dengan tanaman pangannya, maka kita merasakan halaman rumah kita selalu nampak hijau <span> </span>dan penuh barokah. Mengapa kita selalu diombang-ambingkan oleh isu internasional yang kebanyakan dihembuskan oleh Negara Barat. Bukankah kita memiliki potensi yang memadai untuk mencegah kekhawatiran yang dihembuskan oleh isu tersebut. Semoga kita bisa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada disekitar kita untuk pangan, salah satunya dengan mengoptimalkan lahan pekarangan di sekitar rumah kita. [naw]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=87&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/18/pekarangan-areal-tanaman-pangan-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/tanaman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tanaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidup Pada Tingkatan Yang Tinggi</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/17/hidup-pada-tingkatan-tinggi/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/17/hidup-pada-tingkatan-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 07:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Tempo hari saya melaksanakan perjalanan yang melelahkan, yang satu ke Jakarta dan satu lagi ke Jambi. Dari Yogjakarta saya berangkat ke Jakarta naik kereta api. saya lalui perjalanan tersebut dengan cukup melelahkan yaitu selama 8 jam. Dalam perjalanan saya berpikir sungguh luas sekali pulau jawa ini, sehingga untuk sampai di Jakarta harus melalui berbagai kota, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=62&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-64" title="earth1" src="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/earth1.jpeg?w=115&#038;h=115" alt="" width="115" height="115" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tempo hari saya melaksanakan perjalanan yang melelahkan, yang satu ke Jakarta<span> </span>dan satu lagi ke Jambi. Dari Yogjakarta saya<span> </span>berangkat ke Jakarta naik kereta api. saya lalui perjalanan tersebut dengan cukup melelahkan yaitu selama 8 jam. Dalam perjalanan saya berpikir sungguh luas sekali pulau jawa ini, sehingga untuk sampai di Jakarta harus melalui berbagai kota, sungai, lahan pertanian, pebukitan dan terowongan. Dalam perjalanan ini saya merenung, bagaimana seandainya saya melaluinya dengan berjalan kaki?, tentunya akan sangat memakan waktu yang cukup lama dan saya berpikir jawa semakin terasa lebih luas.<span id="more-62"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sesampainya dari Jakarta, saya lanjutkan perjalanan ke Jambi, tapi kali ini saya tidak lagi lewat darat melainkan lewat udara dengan naik pesawat terbang. Ketika pesawat mulai take off, perlahan  dan pasti pesawat naik keudara, kemudian naik lagi, saya melihat jalan yang begitu panjang serasa lebih pendek, bangunan yang begitu besar serasa kecil sekali, lautan yang luas serasa sempit, bahkan manusia terlihat seperti semut. Jika pesawat yang kita tumpangi semakin naik lagi maka bumipun akan terlihat sangat kecil. Dan yang membahagiakan adalah, Jambi yang biasanya<span> </span>ditempuh dari Jakarta melalui darat memakan waktu kurang lebih satu hari satu malam, dengan naik pesawat hanya ditempuh kurang dari satu jam saja. Subanallah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika dibuat perumpamaan dengan kehidupan yang kita jalani, perjalanan  darat dengan kereta api dari Yogyakarta ke Jakarta serasa melelahkan, hal ini terjadi karena sebenarnya kita berada pada tingkat kehidupan yang rendah. Artinya fokus pandangan kita adalah sisi-sisi disamping tubuh dan panca indera kita. Sisi-sisi tersebut adalah hal yang nampak secara keduniawian yang dapat berupa aspek harta yang kita miliki, jabatan/kekuasaan yang kita miliki, ketampanan/kecantikan fisik yang kita miliki dan pasangan hidup kita, keindahan rumah tempat tinggal kita dan sebagainya. Jika pandangan duniawi ini menjadi titik berat pandangan hidup kita, maka kita akan dihadapkan pada kelelahan untuk mengejar ambisi tersebut, karena sekali kita mencoba mengejarnya, maka kita tidak akan pernah puas memenuhinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seorang pejabat atau pengusaha yang hartanya bisa diwariskan dalam tujuh turunan, jika hatinya gelap, dia tetap merasa haus akan kekayaannya. Kita melihat disejumlah media massa mereka rela berbuat jahat untuk mencapai kekayaannya dengan cara melakukan korupsi. Sebaliknya seorang fakir miskin yang hidupnya terlantar, namun hatinya hanya tertuju pada kehidupan didunia semata, mereka rela melakukan kejahatan atau melakukan sesuatu yang terkadang merenggut nyawanya sendiri. Beberapa contoh diantaranya  seseorang rela membunuh hanya gara-gara uang sepulu ribu saja, beberapa orang meninggal gara-gara berebut zakat dan sebagainya. Sungguh fenomena ini merupakan sesuatu yang memprihatinkan. Kesemuanya terjadi karena pandangan fanatisme yang tertumpu pada aspek keduniawian semata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebaliknya jika kita berikan perumpamaan perjalanan dari Jakarta menuju Jambi dengan naik pesawat, maka dapat dikatakan bahwa kita berada pada tingkat kehidupan yang tinggi. Semakin tinggi tingkat kehidupan yang kita miliki, maka pandangan tentang keduniawian terasa kecil dan serasa lebih mudah untuk mensyukurinya. Kehidupan didunia tidak lagi dianggap sebagai beban untuk menumpuk kenikmatan di dunia semata, tetapi lebih pada untuk menikmati kehidupan agar bisa menikmati kehidupan setelahnya. Pandangan orang-orang yang berada pada tingkat kehidupan yang paling tinggi akan menuntun pemahaman bahwa segala sesuatu didunia ini telah diatur oleh Allah SWT. DariNya semuanya berasal, dan kepadaNya semuanya akan kembali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kehidupan didunia dapat dinikmati dengan baik, jika kita punya pemahaman yang baik pula tentang konsep kehidupan setelah di dunia ini. Kita sadari setidaknya ada tiga hal pokok yang harus kita perjuangkan didunia ini untuk menjadi bekal dalam menghadapinya, yaitu;<span> </span>amal jariyah, anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat. Perjuangan untuk mendapatkan ketiga hal tersebut dapat dilakukan dalam suatu kerangka ikhtiar dan istiqomah. Semakin kita memandang kehidupan pada tingkat tertinggi, dorongan untuk mencapai amal jariyah, anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat melalui proses ikhtiar dan istiqomah akan semakin tinggi pula. Kehidupan di dunia yang kita jalani akan mampu kita nikmati dengan baik, karena semua telah mendapat petunjukNya. Rasa syukur atas segala petunjuk dan rahmatNya akan mebuat kita merasa tidak terbebani oleh sifat fanatis akan keduniawian. Pandangan kemuliaan hidup mengacu pada seberapa besar bekal dan kesiapan kita dalam menjalani kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun demikian jika kembali diumpamakan dengan perjalanan naik kereta dan naik pesawat yang dijelaskan di atas, pembeda keduanya adalah harganya tiketnya. Tiket pesawat tentunya lebih mahal dibandingkan dengan naik kereta. Harga tiket tersebut didefinisikan sebagai niat untuk melawan rasa malas dalam menajalankan ikhtiar dan istiqomah. Perjuangan dengan hanya mengejar keduniawian serasa didapat dengan murah karena bisa dilakakukan oleh siapapun bahkan dengan menghalalkan segala macam cara. Sedangkan perjuangan mencapai keseimbangan dunia dan kehidupan setelahnya memerlukan semangat yang luar biasa untuk ikhtiar dan istiqomah dalam menjalaninya dan tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Oleh karenanya pemegang tiket tingkat kehidupan tertinggi ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang punya keinginan kuat untuk bersungguh-sungguh dalam hal iman dan taqwa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Gambaran diatas setidaknya mengajak pada diri kita untuk berada pada tingkatan kehidupan tertinggi sehingga sisi keduniawian sebenarnya hanyalah sarana untuk mencapai kemuliaan hidup disisi Allah SWT. Semoga kita berada pada golongan ini dan selalu dirahmati Allah SWT…amiin. [naw]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/n4wari.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/n4wari.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=62&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/17/hidup-pada-tingkatan-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/earth1.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">earth1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Esensi Shalat Tarawih dan Shalat Isya&#8217;</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/esensi-shalat-tarawih-dan-shalat-isya/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/esensi-shalat-tarawih-dan-shalat-isya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 03:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa puasa telah memasuki hari yang keempat, Selama empat hari menjalani ibadah sholat wajib dimasjid kompleks perumahan kontrakan yang saya tempati, ada sesuatu yang saya rasa berbeda. Masjid yang sehari-harinya biasanya hanya satu shaff jamaah pada tiap kali sholat Maghrib, Isya dan Subuh, selama empat hari ini dipenuhi oleh puluhan warga bahkan sampai membludak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=30&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-59" title="tarawih2" src="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/tarawih2.jpeg?w=118&#038;h=109" alt="" width="118" height="109" />Tak terasa puasa telah memasuki hari yang keempat, Selama empat hari menjalani ibadah sholat wajib dimasjid kompleks perumahan kontrakan yang saya tempati, ada sesuatu yang saya rasa berbeda. Masjid yang sehari-harinya biasanya hanya satu shaff jamaah pada tiap kali sholat Maghrib, Isya dan Subuh, selama empat hari ini dipenuhi oleh puluhan warga bahkan sampai membludak ke luar masjid. Sungguh Ramadhan memang disambut antusias oleh umat Islam.<span id="more-30"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika diskusi dengan pengurus Masjid, mereka menjawab “Ya beginilah mas, kaum muslimin di kompleks ini memang menyambut antusias ramadhan tiap tahunnya”. Lebih lanjut kata dia, jika boleh diibaratkan, trend mereka ke Masjid mirip seperti busa yang terapung diatas air “Semakin lama busa tersebut semakin terkikis oleh air, dari yang awal Ramadhan shaff terisi penuh, lama-kelamaan kemudian kian menipis tinggal jadi satu dua shaff saja”. Kemana mereka? “Mereka disibukkan pada persiapan Idul Fitri, ibu-ibu lebih sibuk membuat kue, bapak-bapak sibuk mencari nafkah dan mengurus THR, anak-anak sibuk pergi kekota mencari pakaian dan perlengkapan, perantau disibukkan untuk mudik dan sebagainya”. “ Lebih ironis lagi setelah Ramadhan, Masjid justru kembali sepi, tinggal satu dua shaff saja jemaahnya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika dianalisis lebih lanjut, kesibukan yang mereka lakukan tersebut kebanyakan terjadi pada saat akhir-akhir Ramadhan, yang sesungguhnya pada saat itu banyak keagungan yang diturunkan oleh Allah SWT, salah satunya adalah malam Lailatul Qadar. Mungkin kita harus merenung bahwa salah satu cerminan diterimanya ibadah puasa di bulan Ramadhan yang telah kita lakukan ini adalah semakin meningkatnya kadar ibadah yang kita lakukan dari awal sampai akhir Ramadhan, yang secara jangka panjang juga akan diiringi dengan semakin meningkatnya ibadah yang kita lakukan setelah bulan Ramadhan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya hanya memetik dari renungan Sholat Tarawih dan Sholat Isya’ karena mudah untuk dijadikan sebagai salah satu indicator yang mudah diukur. Esensi utama kedua ibadah tersebut justru terletak pada Sholat Isya’ nya. Terlepas tentang masih banyaknya perdebatan tentang sholat tarawih, baik menyangkut bilangan rakaatnya maupun kapan dan dimana melaksanakannya. Tapi sholat isya’ hukumnya adalah fardu ‘ain bagi setiap umat Islam. Bagi seorang laki-laki wajib dilaksanakan secara berjemaah di masjid, sedangkan bagi perempuan dalam pelaksanaannya berjemaah di masjid adalah sunnah dan lebih utama dilaksanakan di rumah. Mungkin saya tidak merenungkan mengapa orang ramai-ramai ke masjid? Karena itu adalah suatu hidayah, tapi yang saya renungkan adalah niat kita ke Masjidnya apakah untuk Sholat Tarawih semata atau untuk keduanya?. Kalau niatnya adalah Sholat Tarawih semata, maka sehabis bulan Ramadhan kita mungkin akan jarang lagi ke Masjid, karena sholat tarawih sudah tidak dilaksanakan. Tapi jika niat kita adalah keduanya dengan esensi kewajiban menunaikan ibadah sholat wajib secara berjemaah di Masjid maka kita akan senantiasa datang ke Masjid karena memang bagi seorang laki-laki wajib hukumnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jadi esensi yang bisa dipetik adalah dengan konsisten dan berpegang teguh pada kaedah yang ada, sebenarnya suasana Masjid antara sebelum dan sesudah bulan Ramadhan idealnya sama, yaitu masjid akan selalu dipenuhi oleh kaum Muslimin bahkan dari tahun ketahun akan semakin ramai. Hal ini mencerminkan semakin meningkatnya jumlah penduduk didunia ini, yang kedua adalah semakin meningkatnya ibadah kaum Muslimin karena ibadahnya di bulan Ramadhan tahun sebelumnya telah diterima oleh Allah SWT.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jadi sebagai awal Ramadhan marilah kita berupaya meniatkan secara khusu’ agar ibadah yang kita lakukan mendapat pahala dan diterima disisi Allah SWT. Amiin.[naw]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/n4wari.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/n4wari.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=30&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/esensi-shalat-tarawih-dan-shalat-isya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://n4wari.files.wordpress.com/2008/09/tarawih2.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">tarawih2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan dan Kesederhanaan Hidup</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/ramadhan-sebuah/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/ramadhan-sebuah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 03:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah pada tahun 2009 ini, kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa dibulan Ramadhan. Sesuai dengan tujuannya, perintah puasa dibulan Ramadhan memiliki esensi menahan hawa nafsu sehingga membentuk watak dan pribadi yang bertaqwa. Menahan hawa nafsu tidak hanya diwujudkan menahan lapar, haus, syahwat tetapi menahan nafsu-nafsu panca indera dan hati. Beberapa kali saya membaca [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=26&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]-->Alhamdulillah pada tahun 2009 ini, kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa dibulan Ramadhan. Sesuai dengan tujuannya, perintah puasa dibulan Ramadhan memiliki esensi menahan hawa nafsu sehingga membentuk watak dan pribadi yang bertaqwa. Menahan hawa nafsu tidak hanya diwujudkan menahan lapar, haus, syahwat tetapi menahan nafsu-nafsu panca indera dan hati.<span id="more-26"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Beberapa kali saya membaca disurat kabar bahwa bulan Ramadhan justru cenderung melahirkan angka inflasi yang besar yang kemudian dikenal dengan istilah inflasi musiman. &#8220;Permintaan akan barang semakin tinggi, sedangkan pedagang ingin mendapatkan keuntungan tahunan yang besar&#8221; demikian pemaparan  Boediono sewaktu manjabat Gubernur BI. Lebih lanjut dia menjelaskan hal ini telah menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok menjadi meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ramadhan memang harus disambut dengan penuh kegembiraan, tetapi terkadang kita salah interpretasi terhadap makna kegembiraan tersebut. Kebanyakan dari kita lebih memaknai kegembiraan tersebut dalam arti materi, dimana kita lebih mewujudkannya dalam hal gaya hidup yang berlebihan dibanding bulan-bulan sebelumnya. Gaya hidup tersebut dapat terlihat dari menu makanan yang begitu wah, pakaian dan perlengkapan lainnya juga serasa lebih wah dibanding bulan-bulan sebelumnya. Perilaku ini kemudian mencapai puncaknya menjelang dan pada saat hari raya idul fitri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perilaku yang menyangkut gaya hidup tersebut merupakan salah satu bagian dari hawa nafsu yang seyogyanya dapat kita kendalikan agar mampu kembali pada esensi bulan Ramadhan yang sesungguhnya yaitu sebagai bulan yang penuh rahmat dan bukan malah melahirkan kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan bagi kita yang salah satunya dicerminkan dengan laju inflasi yang begitu tinggi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bahkan tak jarang karena memaksakan diri dengan gaya hidup ini, kita terkadang bertindak diluar kemampuan yang kita miliki. Dan apabila keimanan dan ketaqwaan kita memang tipis, tak jarang kitapun menghalalkan berbagai macam cara untuk mewujudkannya, bahkan terkadang juga telah melahirkan bentuk-bentuk kejahatan mulai dari penipuan, pencurian, perampokan sampai dengan korupsi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bulan Ramadhan merupakan pembelajaran bagaimana manusia bisa menjalani hidup didunia ini dengan penuh kesederhanaan. Hidup sederhana bukan berarti hidup susah dan senang menderita serta bukan pula hidup pelit karena dianggap takut membelanjakan harta. Hidup sederhana merupakan hidup yang cerdas dimana seseorang mampu memilah-mimilah antara keinginan dan kebutuhan hidupnya. Manusia sederhana mampu mengambil keputusan terbaik dengan mengikuti pola yang jelas dan proporsional. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Keinginan akan kesenangan pribadi pada dasarnya merupakan salah satu hawa nafsu yang tidak pernah terpuaskan jika dituruti terus menerus. Menuruti keinginan di bulan Ramadhan dengan gaya hidup berlebihan; makanan yang lebih lezat, pakaian dan barang  mewah dibanding bulan-bulan sebelumnya akan menghantarkan kita pada kegagalan dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. </span></p>
<p style="text-align:justify;">Seyogyanya apabila kita dalam hidup serba sulit, kegembiraan menyambut Ramadhan dapat diimplementasikan dengan fokus dan penuh keihlasan untuk memperbanyak ibadah dan amalan sholeh dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sebaliknya apabila kita berada pada kondisi ekonomi yang lebih baik (cukup/lebih secara materi), implementasi kegembiraan menyambut Ramadhan pada intinya  sama, yaitu dengan keikhlasan untuk memperbanyak ibadah yang salah satunya dapat dilakukan dengan mencoba ikut merasakan atau memahami bagaimana menjalani hidup kesusahan sebagaimana dialami oleh saudara-saudara kita kaum fakir miskin dan yang kurang beruntung yaitu dengan berpuasa sebulan penuh secara ikhlas dan sederhana, serta bagaimana kita juga bersedia untuk berbagi kebahagian materi yang kita miliki dengan cara mensucikan harta yang kita miliki yaitu dengan memperbanyak shadaqah kepada fakir miskin.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin kita bisa merenungkan firman Allah SWT :</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">&#8220;Dan orang-orang yang baik adalah yang apabila menyalurkan (hartanya) maka ia tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu pelit. Dan adalah di antara kedua itulah yang baik.&#8221; </span></em><span lang="IN">(Al Furqan : 76).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">&#8220;&#8230;Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu sangat ingkar terhadap Tuhannya.&#8221; </span></em><span lang="IN">(Al Isro : 26-27)<em>. </em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">&#8220;&#8230;Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.&#8221; </span></em><span lang="IN">(Al An&#8217;am : 141). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">&#8220;Dan janganlah kamu turuti pekerjaan orang-orang yang berlebilh-lebihan. Mereka yang merusak diatas bumi dan tidak memperbaiki.&#8221; </span></em><span lang="IN">(Asy-Syu&#8217;ara : 151-152).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">&#8220;Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan &#8216;ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)&#8221; </span></em><span lang="IN">(Surat At-Takatsur 1 &#8211; 8).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Semoga kita bisa menjalani bulan Ramadhan sesuai dengan esensi yang terkadung di dalamnya, yaitu menjalani proses pembelajaran bagi kita tentang bagaimana bisa hidup dengan kesederhanaan agar kehidupan yang kita jalani senantiasa penuh barokah dan selalu dalam lindunganNya. Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan semoga kita menjadi orang yang beriman dan bartagwa&#8230;amiin.[naw]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/n4wari.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/n4wari.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=26&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/ramadhan-sebuah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Golongan Yang Dinaungi Allah</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/golongan-yang-dinaungi-allah/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/golongan-yang-dinaungi-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 03:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Hadist dari Abu Hurairah yang telah disepakati Al-Bukhary &#38; Muslim Rasulullaah Shalallaahu &#8216;alaihy wasallam bersabda: &#8220;Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya. Pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya”, yaitu: 1. Pemimpin yang adil 2. Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya 3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=22&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hadist dari Abu Hurairah yang telah disepakati Al-Bukhary &amp; Muslim Rasulullaah Shalallaahu &#8216;alaihy wasallam bersabda: &#8220;Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya. Pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya”, yaitu:<span id="more-22"></span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-indent:-12.6pt;text-align:left;">1. Pemimpin yang adil<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-indent:-12.6pt;text-align:left;">2. Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-indent:-12.6pt;text-align:left;">3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-indent:-12.6pt;text-align:left;">4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul &amp; berpisah karena Allah</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-indent:-12.6pt;text-align:left;">5. Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan cantik &amp; berkedudukan untuk berzina tetapi<span> </span>dia berkata, &#8220;Aku takut kepada Allah&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-indent:-12.6pt;text-align:left;">6. Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-indent:-12.6pt;text-align:left;">7. Seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam riwayat Muslim yang lain, hadist dari Abu Hurairah, Rasulullaah Shalallaahu &#8216;alaihy wasallam bersabda: “<em>Sesungguhnya kelak di hari kiamat, Allah akan berfirman,&#8221;Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepada-Nya dalam naungan-Ku di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku&#8221; &#8220;Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu Aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya, maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian</em>&#8220;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/n4wari.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/n4wari.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=22&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/09/06/golongan-yang-dinaungi-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adakah Komitmen Hidup Bersama?</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/06/28/7-2/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/06/28/7-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 17:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini saya menghadiri mantenan seorang teman di Graha Sabha Pramana UGM. Dalam hati saya cukup takjub sekali karena pestanya berlangsung cukup mewah dan undangan yang hadir adalah para elit birokrat. Berbagai motif dan harapan dari adanya pesta ini tentunya diusung oleh pihak penyelenggara maupun dari pihak undangan. Pihak penyelenggara mungkin berharap bahwa pernikahan mempelai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=12&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Malam ini saya menghadiri mantenan seorang teman di Graha Sabha Pramana UGM. Dalam hati saya cukup takjub sekali karena pestanya berlangsung cukup mewah dan undangan yang hadir adalah para elit birokrat. Berbagai motif dan harapan dari adanya pesta ini tentunya diusung oleh pihak penyelenggara maupun dari pihak undangan. Pihak penyelenggara mungkin berharap bahwa pernikahan mempelai mendapat ‘dukungan’ dari<span> </span>tamu-tamu yang diundang. Sedangkan pihak tamu yang diundang berharap mendapat ‘komitmen’ serta tetap menjalin persahabatan dan kerjasama. Nilai-nilai<span> </span>motiv dan harapan kedua belah pihak sebenarnya menunjukkan itikad baik, yaitu bersama-sama untuk meningkatkan kualitas hubungan, baik hubungan suami istri si manten anyar agar menjadi keluarga sakinah maupun hubungan si manten anyar<span> </span>dengan lingkungan sekitarnya terjalin dengan erat.<span id="more-12"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dulu dikampung saya terjadi suatu upacara serupa, seorang kaya meminang gadis desa. Pesta pernikahan dilangsungkan selama empat hari empat malam dengan pementasan ludruk,pentas musik, janger dan wayang pada setiap malamnya. Tamu yang hadir dalam pernikahan tersebut juga membludak dari berbagai kalangan mulai petani sampai kalangan pengusaha. Yang membuat saya tertegun adalah setelah seminggu pesta pernikahan, suami istri tersebut melakukan perceraian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Suatu nilai dasar ketika menyatakan itikad untuk menikah dan menjadi suami istri adalah adanya suatu komitmen bersama yang tidak akan pernah luntur sepanjang masa sampai di akhir hayat. Komitmen tersebut dilandasi oleh suatu kesepahaman bersama terhadap masing-masing karakter yang dimiliki. Kebanyakan diantara umat manusia terjebak pada makna cinta sesaat yang mengedepankan fisik dan materi semata. Seringkali kita tidak mengenal secara utuh karakter calon pasangan kita. Situasi ini menyebabkan kita sulit membangun <em>trust</em> satu sama lainnya. Ini juga berefek pada pelarian-pelarian yang dapat merusak mahligai rumah tangga yang kita bina.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kesepahaman dalam menjalin kehidupan bersama dapat dipupuk dengan meletakkan pondasi cinta yaitu munajad mahligai perkawinan karena persamaan visi untuk meningkatkan ibadah kehadirat-Nya. Kesepahaman akibat persamaan visi ini akan menyebabkan segala urusan dan komitmen akan di letakkan pada keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dengan demikian kita selalu merasa bahwa setiap tingkah laku kita akan mendapatkan tuntunan dari Ilahi. Salah satu indicator keberhasilan membangun komitmen cinta berdasarkan pada keimanan adalah semakin meningkatnya kecintaan kita kepada Ilahi dalam wujud meningkatnya kadar iman dan taqwa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dengan pondasi iman dan taqwa tersebut, kita merasa mendapat ketenangan akan terpeliharanya komitmen yang telah kita sepakati dengan pasangan hidup kita. Rasa syukur terhadap karunia Ilahi akan selalu menghiasi hidup kita dan pasangan kita. Hal inilah yang akan membuat kita dapat menikmati kehidupan secara bersama-sama tanpa selalu mengeluhkan kelemahan<span> </span>pasangan hidup kita.. Dan tentunya kita akan sangat enjoy dengan kehidupan rumah tangga yang kita bina.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Esensi yang bisa dipetik adalah: “gemerlap pesta pernikahan bukanlah suatu yang utama dibandingkan dengan komitmen untuk melanggengkan cinta dan mahligai perkawaninan sampai diakhir hayat kita”. Sungguh bahagialah mereka yang mengalami karunia semacam ini.[naw]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/n4wari.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/n4wari.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=12&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/06/28/7-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjalani Hidup Dengan Tanpa Beban</title>
		<link>http://n4wari.wordpress.com/2008/06/27/7/</link>
		<comments>http://n4wari.wordpress.com/2008/06/27/7/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 00:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>n4wari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://n4wari.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini saya menyaksikan pertandingan semifinal piala Eropa 2008 antara Spanyol melawan Rusia yang berkahir dengan kedudukan 3-0 untuk kemenangan Spanyol. Ada hikmah yang bisa dipetik dari pertandingan Spanyol dan Rusia ini. Kedua tim pernah bertemu dengan kedudukan 4-1 untuk kemenangan Spanyol. Disini terlihat Spanyol sukses dua kali membuat kubu Rusia dan Gus Hiddink menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=8&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pagi ini saya menyaksikan pertandingan semifinal piala Eropa 2008 antara Spanyol melawan Rusia yang berkahir dengan kedudukan 3-0 untuk kemenangan Spanyol. Ada hikmah yang bisa dipetik dari pertandingan Spanyol dan Rusia ini. Kedua tim pernah bertemu dengan kedudukan 4-1 untuk kemenangan Spanyol. Disini terlihat Spanyol sukses dua kali membuat kubu Rusia dan Gus Hiddink menjadi penasaran. Betapa tidak, sejak kekalahan itu Rusia tampil begitu memikat dengan mengalahkan Yunani 1-0 dan Swedia 2-1. Kejutan Rusia berlanjut diperempatfinal dengan mengalahkan Belanda yang sangat diunggulkan dengan skor telak 3-1.<span id="more-8"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertandingan Rusia vs Belanda dan Rusia vs Spanyol mungkin menarik <span> </span>diulas. Belanda yang begitu superior di fase penyisihan dengan mengandaskan tiga lawan tangguh Italia, Perancis dan Rumania justru tampil dengan beban yang tinggi ketika menghadapi Rusia  diperempatfinal sehingga mereka kalah 3-1. Spanyol kondisinya serupa dengan Belanda, mereka sukses membekap Rusia, Yunani dan Swedia di penyisihan serta melumat Italia di perempatfinal. Ketika menghadapi Rusia di semifinal, Spanyol tampil memukau seolah tampil tanpa beban. Sebaliknya dengan kesuksesan mengalahkan Belanda, Rusia tampil penuh semangat dan determinasi, maka jadilah pertandingan kedua tim sangat menarik untuk ditonton. Karena sama-sama tanpa beban, yang membedakan keduanya adalah kematangan emosi, skill dan taktik kedua pelatih. Apa yang saya lihat pagi ini, Spanyol memang lebih memiliki kematangan dibandingkan Rusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari kasus Belanda dan Spanyol ini, saya mengambil sisi positifnya, yaitu faktor menjalani sesuatu tanpa beban membuat kita benar-benar menikmati hidup ini. Dengan menghilangkan beban yang kita miliki bukan berarti membuat kita lalai dan meninggalkan kewajiban yang harus kita penuhi. Tanpa beban berarti menjalani hidup tanpa terpengaruh akan hasil yang akan kita capai melainkan kita memfokuskan diri terhadap apa yang harus kita perbuat. Semua manusia punya kelebihan dan kekurangan, seseorang yang menjalani hidup tanpa beban selalu berpikir memaksimalkan kelebihan yang dimiliki, mengasahnya serta memperbaiki kekurangannya. Dengan demikian dalam kehidupan yang kita jalani, kita terfokus pada motivasi kuat untuk mengalahkan kekurangan yang kita miliki sehingga memberikan hasil yang benar-benar optimal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berkaca pada Belanda yang tampil penuh beban melawan Rusia diperempatfinal,  kondisi ini membuat mereka serasa kehilangan bakat dan talenta yang dimilikinya. Hal inilah yang kemudian menyebabkan penampilan mereka menjadi antiklimaks dibandingkan laga-laga sebelumnya. Pikiran para pemain Belanda pada waktu itu mungkin bukan pada: &#8220;bagaimana kita akan tampil maksimal apapun hasil yang akan kita diraih&#8221;. Namun sebaliknya  mereka mungkin berpikir: “wah bagaimana seandainya kita kalah, pasti fans begitu kecewa dengan kita?” dll. Inilah yang menghantui konsentrasi mereka sehingga mudah dikalahkan oleh pemain-pemain Rusia yang tampil begitu <em>fight</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dibalik itu semua, ada Satu sisi yang perlu dicermati pada saat mengalami kesuksesan akibat tampil tanpa beban, yaitu hendaknya kita  menjaga diri untuk tetap tampil <em>low profile </em>dan tidak <em>over confidence</em>. Hal ini menyebabkan kita tidak lengah terhadap sisi-sisi kekurangan yang kita miliki. Seringkali seseorang yang dulunya <em>underdog </em>ketika mengalami kesuksesan malah terjatuh ke jurang yang sama. Mungkin bisa kita lihat dari pertandingan Rusia vs<span> </span>Spanyol di semifinal piala Eropa. Pada pertandingan tersebut di awal-awal laga Rusia seakan mengurung Spanyol, para pemain Rusia seakan begitu percaya diri, beberapa peluang justru terbuang percuma dan tidak menghasilkan goal. Seiring dengan sifat Rusia ini, Spanyol yang memiliki kematangan akhirnya bisa memanfaatkan <span> </span>celah, khususnya mendominasi disector lapangan tengah Rusia, sebaliknya Rusia seakan kehilangan konsentrasi. Inilah yang kemudian menjadi awal petaka dan membuat Spanyol mampu memanfaatkan peluang sekecil apapun. Fakta menunjukkan, Jika dihitung peluang Rusia mencetak goal diawal laga sebenarnya lebih banyak dibandingkan dengan Spanyol. Apakah ini adalah suatu ketidakeruntungan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terlepas dari benar tidaknya analisis tersebut, pelajaran yang bisa dipetik adalah meskipun kita sudah menjalani hidup dengan tanpa beban, tetap diperlukan konsentrasi yang kuat secara konsisten terhadap apa yang kita jalani. Dengan demikian kita akan terhindar dari beban-beban tersembunyi yang terkadang tidak kita sadari kehadirannya. Beban-beban tersebut berupa sifat <em>over confidence</em>, mabuk kemenangan, sombong dan sebagainya. Beban-beban tersembunyi inilah yang sebenarnya lambat laun justru akan membunuh kesuksesan hidup yang hendak atau telah kita raih.[naw]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/n4wari.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/n4wari.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/n4wari.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/n4wari.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/n4wari.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/n4wari.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/n4wari.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/n4wari.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/n4wari.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/n4wari.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/n4wari.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/n4wari.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/n4wari.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/n4wari.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/n4wari.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/n4wari.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=n4wari.wordpress.com&amp;blog=3939599&amp;post=8&amp;subd=n4wari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://n4wari.wordpress.com/2008/06/27/7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11eab809b216304e3531fab5826659f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">n4wari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
