Ramadhan dan Kesederhanaan Hidup

Alhamdulillah pada tahun 2009 ini, kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa dibulan Ramadhan. Sesuai dengan tujuannya, perintah puasa dibulan Ramadhan memiliki esensi menahan hawa nafsu sehingga membentuk watak dan pribadi yang bertaqwa. Menahan hawa nafsu tidak hanya diwujudkan menahan lapar, haus, syahwat tetapi menahan nafsu-nafsu panca indera dan hati.

Beberapa kali saya membaca disurat kabar bahwa bulan Ramadhan justru cenderung melahirkan angka inflasi yang besar yang kemudian dikenal dengan istilah inflasi musiman. “Permintaan akan barang semakin tinggi, sedangkan pedagang ingin mendapatkan keuntungan tahunan yang besar” demikian pemaparan  Boediono sewaktu manjabat Gubernur BI. Lebih lanjut dia menjelaskan hal ini telah menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok menjadi meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Ramadhan memang harus disambut dengan penuh kegembiraan, tetapi terkadang kita salah interpretasi terhadap makna kegembiraan tersebut. Kebanyakan dari kita lebih memaknai kegembiraan tersebut dalam arti materi, dimana kita lebih mewujudkannya dalam hal gaya hidup yang berlebihan dibanding bulan-bulan sebelumnya. Gaya hidup tersebut dapat terlihat dari menu makanan yang begitu wah, pakaian dan perlengkapan lainnya juga serasa lebih wah dibanding bulan-bulan sebelumnya. Perilaku ini kemudian mencapai puncaknya menjelang dan pada saat hari raya idul fitri.

Perilaku yang menyangkut gaya hidup tersebut merupakan salah satu bagian dari hawa nafsu yang seyogyanya dapat kita kendalikan agar mampu kembali pada esensi bulan Ramadhan yang sesungguhnya yaitu sebagai bulan yang penuh rahmat dan bukan malah melahirkan kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan bagi kita yang salah satunya dicerminkan dengan laju inflasi yang begitu tinggi.

Bahkan tak jarang karena memaksakan diri dengan gaya hidup ini, kita terkadang bertindak diluar kemampuan yang kita miliki. Dan apabila keimanan dan ketaqwaan kita memang tipis, tak jarang kitapun menghalalkan berbagai macam cara untuk mewujudkannya, bahkan terkadang juga telah melahirkan bentuk-bentuk kejahatan mulai dari penipuan, pencurian, perampokan sampai dengan korupsi.

Bulan Ramadhan merupakan pembelajaran bagaimana manusia bisa menjalani hidup didunia ini dengan penuh kesederhanaan. Hidup sederhana bukan berarti hidup susah dan senang menderita serta bukan pula hidup pelit karena dianggap takut membelanjakan harta. Hidup sederhana merupakan hidup yang cerdas dimana seseorang mampu memilah-mimilah antara keinginan dan kebutuhan hidupnya. Manusia sederhana mampu mengambil keputusan terbaik dengan mengikuti pola yang jelas dan proporsional.

Keinginan akan kesenangan pribadi pada dasarnya merupakan salah satu hawa nafsu yang tidak pernah terpuaskan jika dituruti terus menerus. Menuruti keinginan di bulan Ramadhan dengan gaya hidup berlebihan; makanan yang lebih lezat, pakaian dan barang mewah dibanding bulan-bulan sebelumnya akan menghantarkan kita pada kegagalan dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Seyogyanya apabila kita dalam hidup serba sulit, kegembiraan menyambut Ramadhan dapat diimplementasikan dengan fokus dan penuh keihlasan untuk memperbanyak ibadah dan amalan sholeh dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sebaliknya apabila kita berada pada kondisi ekonomi yang lebih baik (cukup/lebih secara materi), implementasi kegembiraan menyambut Ramadhan pada intinya sama, yaitu dengan keikhlasan untuk memperbanyak ibadah yang salah satunya dapat dilakukan dengan mencoba ikut merasakan atau memahami bagaimana menjalani hidup kesusahan sebagaimana dialami oleh saudara-saudara kita kaum fakir miskin dan yang kurang beruntung yaitu dengan berpuasa sebulan penuh secara ikhlas dan sederhana, serta bagaimana kita juga bersedia untuk berbagi kebahagian materi yang kita miliki dengan cara mensucikan harta yang kita miliki yaitu dengan memperbanyak shadaqah kepada fakir miskin.

Mungkin kita bisa merenungkan firman Allah SWT :

“Dan orang-orang yang baik adalah yang apabila menyalurkan (hartanya) maka ia tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu pelit. Dan adalah di antara kedua itulah yang baik.” (Al Furqan : 76).

“…Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu sangat ingkar terhadap Tuhannya.” (Al Isro : 26-27).

“…Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al An’am : 141).

“Dan janganlah kamu turuti pekerjaan orang-orang yang berlebilh-lebihan. Mereka yang merusak diatas bumi dan tidak memperbaiki.” (Asy-Syu’ara : 151-152).

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (Surat At-Takatsur 1 – 8).

Semoga kita bisa menjalani bulan Ramadhan sesuai dengan esensi yang terkadung di dalamnya, yaitu menjalani proses pembelajaran bagi kita tentang bagaimana bisa hidup dengan kesederhanaan agar kehidupan yang kita jalani senantiasa penuh barokah dan selalu dalam lindunganNya. Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan semoga kita menjadi orang yang beriman dan bartagwa…amiin.[naw]

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.