Mendengar kata layang-layang mungkin akan membawa ingatan sebagian dari kita pada masa kecil. Yah.. layang-layang merupakan salah satu bentuk permainan yang mengikuti suatu siklus musiman tertentu. Tidak diketahui secara pasti siapa yang membuat kesepakatan siklus permainan itu, namun yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah ketika suatu wilayah desa tertentu banyak anak-anak bermain kelereng, maka hampir semua anak-anak di wilayah desa yang lain juga akan bermain kelereng. Begitu halnya dengan permainan layang-layang, ketika musimnya telah tiba, anak-anak desa pinggiran akan sibuk mencari bambu sebagai bahan layangan ke pekarangan, tegalan bahkan sampai hutan disekitar mereka tinggal, mencari kertas minyak, benang dan tentunya disibukkan membuat layang-layang tersebut.
Ada keasikan tersendiri dalam proses permainan layang-layang ini, anak-anak yang tingal di pelosok pedesaan mungkin akan lebih menyukai jika layangan itu dibuat sendiri. Hal ini dianggap oleh mereka lebih mengasikkan jika dibandingkan dengan membeli layangan yang sudah jadi. Jika dipikir-pikir proses pembuatannya merupakan proses pengetahuan. Jenis bambu sebagai bahan rangka akan menentukan bentuk layangan. Layangan yang baik harus simetris, ukuran bagian atas dan bagian bawah harus proporsional, demikian juga besar rangka dan jenis kertas yang dipakai akan menentukan apakah layangan akan handal diudara atau tidak. Jenis dan bahan gelasan benang juga harus diperhatikan agar layangan tidak mudah putus mengudara. Pada saat memainkannya, cara menaikkan layangan juga mengandung unsur pengetahuan, ibarat pesawat take off maka harus meggunakan jarak tertentu agar layangan bisa mengudara. Begitupun ketika telah mengudara, pemain layang-layang harus pandai menarik dan mengulur benang agar layangan tidak mudah putus ketika menghadapi tekanan angin maupun serangan dari layangan lawan.
Ibarat musim layangan, siklus kehidupan yang kita hadapi pada saat ini adalah globalisasi. Kaum liberal yang begitu menguasai dunia dengan teknologinya telah menginisiasi globalisasi ini dengan berbagai turunan yang nyata seperti hak asasi manusia, ekonomi kapitalis, demokratisasi, desentralisasi dll. Disamping itu juga terdapat turunan-turunan yang samar-samar diantaranya collaboration, social responsibility dll. Semua turunan itu dibungkus dalam isu-isu global diantaranya good governance, clean development mechanism, terorism, poverty, climate change sampai pada food and energy crisis. Seperti halnya musim layangan, isu-isu ini begitu marak dinegara-negara pinggiran. Senarai bersambut negara-negara pinggiran tersebut juga sangat asik menikmati musim permainan ini.
Jika dicermati, ada sisi menarik dari setiap isu tersebut, kita contohkan saja negara pinggiran itu adalah negara yang kita tempati saat ini. Isu good governance misalnya telah memberikan peranan yang penting dalam menciptakan proses demokratisasi dan desentralisasi di negara ini. Perubahan rejim dari orde baru menjadi era roformasi dirasakan dalam kadar rasa yang berbeda ditiap level pemerintahan maupun sektor pembangunan. Jika menyangkut rasa memang tiada parameter obyektif yang dapat diajukan, namun yang harus disadari adalah kemampuan komponen bangsa dalam menyerap sebanyak-banyaknya sisi positif dari isu-isu tersebut dan mengantisipasi sebaik-baiknya dampak negatif yang akan ditimbulkan. Sisi positif dari isu tersebut diantaranya pemerataan pembangunan, sedangkan sisi negatifnya adalah munculnya egoisme kedaerahan yang dapat berujung pada perpecahan bangsa.
Setiap isu harus disikapi obyektif dengan berbagai persiapan yang matang. Ibaratnya permainan layang-layang sebagaimana disebut diatas, dibutuhkan sumberdaya manusia yang handal yang mampu merangcang dan memainkan layangan agar mengudara dengan baik sehingga tidak terombang-ambing dan mudah putus diudara. Sisi pengetahuan mulai dari level epistimologi sampai ontologinya idealnya mampu tercermin dalam sosok-sosok penggerak bangsa ini dalam menetapkan arah pembangunan. Jika semangat meningkatkan kapasitas dengan dasar pengetahuan menjadi prinsip komponen bangsa dalam berkarya, dapat dikatakan komponen tersebut memiliki kapabilitas yang tinggi.
Pada kondisi tertentu pengetahuan harus ditempatkan pada kondisi yang tepat untuk menangkap sisi positif dan mengantisipasi sisi negatif dari globalisasi tersebut. Menempatkan pengetahuan pada kondisi yang tepat merupakan salah satu bentuk manajeman resiko yang bijaksana. Tidak semua pengetahuan secara mentah-mentah dapat dipaksakan pada satu kondisi, kejelian seseorang mengadaptasikannya pada suatu kondisi tertentu merupakan cerminan sosok yang acceptable.
Selain itu setiap pengetahuan harus sinergi dengan kekuatan lain yang menguasai kehidupan ini. Kekuatan lain itu adalah Tuhan YME, keimanan dan ketagwawan yang hakiki kepada Tuhan YME akan mengarahkan kita untuk selalu berbuat baik dan menempatkan pengetahuan dalam kerangka ibadah. Seseorang yang menempatkan pengetahuan dalam kerangka ibadah merupakan cerminan sosok yang memiliki keimanan dan ketagwaan yang tinggi .
Dalam era globalisasi dengan berbagai isu yang dihembuskan oleh kaum liberal, bangsa ini memerlukan good leadership pada setiap level pemerintahannya. Setidaknya good leadership itu meliputi aspek kapabilitas, acceptabilitas, keimanan dan ketagwaan. Harapan kita adalah ketiganya tercermin dalam sosok-sosok pengerak dan komponen bangsa ini, dengan demikian akan melahirkan karakter bangsa yang tangguh menyongsong era globalisasi.



Tak terasa puasa telah memasuki hari yang keempat, Selama empat hari menjalani ibadah sholat wajib dimasjid kompleks perumahan kontrakan yang saya tempati, ada sesuatu yang saya rasa berbeda. Masjid yang sehari-harinya biasanya hanya satu shaff jamaah pada tiap kali sholat Maghrib, Isya dan Subuh, selama empat hari ini dipenuhi oleh puluhan warga bahkan sampai membludak ke luar masjid. Sungguh Ramadhan memang disambut antusias oleh umat Islam.