Arti Sebuah Cuek Dalam Networking

January 11, 2010 by n4wari

Dahulu saya merasa ingin mengkonfirmasi dan berusaha meluruskan segala sesuatu yang sebenarnya tidak pernah saya lakukan. Karena begitu kuatnya dorongan hati mengkonfirmasi atas hal-hal tersebut terkadang saya seringkali selalu mencari kesempatan menyampaikan konfirmasi terhadap suatu hal bahkan membuat saya susah tidur. Pernah suatu ketika seseorang berkata kepada saya “mengapa saudara begitu memaksa agar saya yakin kepada anda?”. Perkataan tersebut seakan menyadarkan saya bahwa suatu konfirmasi tidak harus menuntut orang agar selalu yakin kepada kita.

Sejak saat itulah saya selalu lebih memikirkan bagaimana aktivitas yang saya lakukan selalu bisa memberikan sesuatu yang positif bagi kemajuan hidup saya dan saya harapkan juga bagi orang lain. Dengan lebih memfokuskan pada perbuatan yang nyata. Walaupun awalnya sangat sulit, namun lambat laun hal ini telah menyebabkan saya lebih memfokuskan konsentrasi bagaimana aktivitas yang saya lakukan berada pada jalur yang benar dan bernilaiguna bagi kehidupan saya dan orang lain. Saya lebih terfokus dengan hal-hal yang berbau positif yang nyata daripada hanya menebarkan suatu wacana. Ternyata sifat cuek akan hasil yang akan kita dapat lebih memberikan dampak yang begitu signifikan bagi kehidupan yang saya jalani.

Rasa cuek akan suatu tanggapan terhadap sifat yang kita lakukan menghindarkan saya dari beban akan datangnya prasangka-prasangka negatif yang akan datang dari orang lain di sekitar kita. Saya tidak pernah lagi memikirkan bagimana sikap yang akan dilakukan oleh orang lain terhadap sikap yang telah saya ambil. Setelah hampir dua tahun mencoba menerapkan hal ini, ternyata terdapat beberapa produktivitas kinerja. Alhamdulillah jaringan persahabatan semakin banyak dan yang tak kalah penting justru kepercayaan orang lain terhadap saya semakin tinggi. Dari proses networking inilah banyak hal yang telah dilakukan walaupun saya terkadang merasa saya perlu mengatur waktu untuk berinteraksi dalam jaringan tersebut. Saya khawatir dengan selalu menyanggupi banyak hal akan membuat semakin melemahnya networking dengan para rekan kerja saya. Meski demikian dengan sikap ini kita tidak berniat menjaga jarak tapi lebih mempertegas situasi, sehingga tidak ada sesuatu yang diharapkan oleh orang lain ketika kita belum ada kesempatan untuk melakukan komitmen kerjasama.

Nilai yang ingin saya sampaikan dalam catatan ini adalah bagaimana kita lebih memfokuskan mengerjakan hal-hal yang baik yang membangun kemajuan bersama tanpa memikirkan perlakuan dan pandangan yang akan kita dapatkan dari orang lain akan hal-hal yang telah atau akan kita kerjakan. Tentunya selain sifat cuek, masih banyak hal-hal yang mampu membantu kita mencapai kemajuan dalam menjalani kehidupan, semoga catatan ini bisa menjadi salah satu referensi. Amin

Layang-Layang

April 16, 2009 by n4wari

Mendengar kata layang-layang mungkin akan membawa ingatan sebagian dari kita pada masa kecil. Yah.. layang-layang merupakan salah satu bentuk permainan yang mengikuti suatu siklus musiman tertentu. Tidak diketahui secara pasti siapa yang membuat kesepakatan siklus permainan itu, namun yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah ketika suatu wilayah desa tertentu  banyak anak-anak bermain kelereng, maka hampir semua anak-anak di wilayah desa yang lain juga akan bermain kelereng. Begitu halnya dengan permainan layang-layang, ketika musimnya telah tiba, anak-anak desa pinggiran akan sibuk mencari bambu sebagai bahan layangan ke pekarangan, tegalan bahkan sampai hutan disekitar mereka tinggal, mencari kertas minyak, benang dan tentunya disibukkan membuat layang-layang tersebut.

Ada keasikan tersendiri dalam proses permainan layang-layang ini, anak-anak yang tingal di pelosok pedesaan mungkin akan lebih menyukai jika layangan itu dibuat sendiri. Hal ini dianggap oleh mereka lebih mengasikkan jika dibandingkan dengan membeli layangan yang sudah jadi. Jika dipikir-pikir proses pembuatannya merupakan proses pengetahuan. Jenis bambu sebagai bahan rangka akan menentukan bentuk layangan. Layangan yang baik harus simetris, ukuran bagian atas dan bagian bawah harus proporsional, demikian juga besar rangka dan jenis kertas yang dipakai akan menentukan apakah layangan akan handal diudara atau tidak. Jenis dan  bahan gelasan benang juga harus diperhatikan agar layangan tidak mudah putus mengudara. Pada saat memainkannya, cara menaikkan layangan juga mengandung unsur pengetahuan, ibarat pesawat take off maka harus meggunakan jarak tertentu agar layangan bisa mengudara. Begitupun ketika telah mengudara, pemain layang-layang harus pandai menarik dan mengulur benang agar layangan tidak mudah putus ketika menghadapi tekanan angin maupun serangan dari layangan lawan.

Ibarat musim layangan, siklus kehidupan yang kita hadapi pada saat ini adalah globalisasi. Kaum liberal yang begitu menguasai dunia dengan teknologinya telah menginisiasi globalisasi ini dengan berbagai turunan yang nyata seperti hak asasi manusia, ekonomi kapitalis, demokratisasi, desentralisasi dll. Disamping itu juga terdapat turunan-turunan yang samar-samar diantaranya collaboration, social responsibility dll. Semua turunan itu dibungkus dalam isu-isu global diantaranya good governance, clean development mechanism, terorism, poverty, climate change sampai pada food and energy crisis. Seperti halnya musim layangan, isu-isu ini begitu marak dinegara-negara pinggiran. Senarai bersambut negara-negara pinggiran tersebut juga sangat asik menikmati musim permainan ini.

Jika dicermati, ada sisi menarik dari setiap isu tersebut, kita contohkan saja negara pinggiran itu adalah negara yang kita tempati saat ini. Isu good governance misalnya telah memberikan peranan yang penting dalam menciptakan proses demokratisasi dan desentralisasi di negara ini. Perubahan rejim dari orde baru menjadi era roformasi dirasakan dalam kadar rasa yang berbeda ditiap level pemerintahan maupun sektor pembangunan. Jika menyangkut rasa memang tiada parameter obyektif yang dapat diajukan, namun yang harus disadari adalah kemampuan komponen bangsa dalam menyerap sebanyak-banyaknya sisi positif dari isu-isu tersebut dan mengantisipasi sebaik-baiknya dampak negatif yang akan ditimbulkan. Sisi positif dari isu tersebut diantaranya pemerataan pembangunan, sedangkan sisi negatifnya adalah munculnya egoisme kedaerahan yang dapat berujung pada perpecahan bangsa.

Setiap isu harus disikapi obyektif dengan berbagai persiapan yang matang. Ibaratnya permainan layang-layang sebagaimana disebut diatas, dibutuhkan sumberdaya manusia yang handal yang mampu merangcang dan memainkan layangan agar mengudara dengan baik sehingga tidak terombang-ambing dan mudah putus diudara. Sisi pengetahuan mulai dari level epistimologi sampai ontologinya idealnya mampu tercermin dalam sosok-sosok penggerak bangsa ini dalam menetapkan arah pembangunan. Jika semangat meningkatkan kapasitas dengan dasar pengetahuan menjadi prinsip komponen bangsa dalam berkarya, dapat dikatakan komponen tersebut memiliki kapabilitas yang tinggi.

Pada kondisi tertentu pengetahuan harus ditempatkan pada kondisi yang tepat untuk menangkap sisi positif dan mengantisipasi sisi negatif dari globalisasi tersebut. Menempatkan pengetahuan pada kondisi yang tepat merupakan salah satu bentuk manajeman resiko yang bijaksana. Tidak semua pengetahuan secara mentah-mentah dapat dipaksakan pada satu kondisi, kejelian seseorang mengadaptasikannya pada suatu kondisi tertentu merupakan cerminan sosok yang acceptable.

Selain itu setiap pengetahuan harus sinergi dengan kekuatan lain yang menguasai kehidupan ini. Kekuatan lain itu adalah Tuhan YME, keimanan dan ketagwawan yang hakiki kepada Tuhan YME akan mengarahkan kita untuk selalu berbuat baik dan menempatkan pengetahuan dalam kerangka ibadah. Seseorang yang menempatkan pengetahuan dalam kerangka ibadah merupakan cerminan sosok yang memiliki keimanan dan ketagwaan yang tinggi .

Dalam era globalisasi dengan berbagai isu yang dihembuskan oleh kaum liberal, bangsa ini memerlukan good leadership pada setiap level pemerintahannya. Setidaknya good leadership itu meliputi aspek kapabilitas, acceptabilitas, keimanan dan ketagwaan. Harapan kita adalah  ketiganya tercermin dalam sosok-sosok pengerak dan komponen bangsa ini, dengan demikian akan melahirkan karakter bangsa yang tangguh menyongsong era globalisasi.

Membangun Jiwa Yang Mandiri

September 24, 2008 by n4wari

Kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah SWT. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kita. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri. Read the rest of this entry »

Belajar Dari Cabai

September 22, 2008 by n4wari

Cabai sebuah tanaman khas yang kehadirannya selalu dinantikan oleh ummat manusia. Tanaman ini unik kerena memiliki nilai elastisitas tinggi yang merupakan salah satu penyumbang inflasi terbesar. Apabila harga cabai murah, maka sangat beruntunglah orang yang menanamnya pas harga itu. Orang akan cenderung meninggalkan usaha pada saat suatu produk memiliki harga murah. Seseorang yang tetap konsisten menanam cabai disaat harga yang murah, maka ketika panen akan menikmati harga produk yang tinggi karena hanya sedikit orang yang memanennya pada waktu itu. Read the rest of this entry »

Pekarangan dan Tanaman Pangan

September 18, 2008 by n4wari

Kembali menyambung cerita dari Jambi sebagaimana saya posting dalam tulisan sebelumnya. Kali ini saya memasuki Desa Rantau Panjang di Kecamatan Batangasai, Kabupaten Sarolangon. Sebuah desa yang untuk mencapainya saja harus ada semangat yang ekstra. Betapa tidak, selain jalannya yang terjal, juga kerena kondisinya yang rusak parah. Memasuki wilayah desa ini, rumah-rumah penduduk berjejer rapi ditepi aliran sungai Batangasai yang rantau (tenang), karena areal yang rantau ini relatif panjang, jadilah kawasan ini disebut Rantau Panjang. Read the rest of this entry »

Hidup Pada Tingkatan Yang Tinggi

September 17, 2008 by n4wari

Tempo hari saya melaksanakan perjalanan yang melelahkan, yang satu ke Jakarta dan satu lagi ke Jambi. Dari Yogjakarta saya berangkat ke Jakarta naik kereta api. saya lalui perjalanan tersebut dengan cukup melelahkan yaitu selama 8 jam. Dalam perjalanan saya berpikir sungguh luas sekali pulau jawa ini, sehingga untuk sampai di Jakarta harus melalui berbagai kota, sungai, lahan pertanian, pebukitan dan terowongan. Dalam perjalanan ini saya merenung, bagaimana seandainya saya melaluinya dengan berjalan kaki?, tentunya akan sangat memakan waktu yang cukup lama dan saya berpikir jawa semakin terasa lebih luas. Read the rest of this entry »

Esensi Shalat Tarawih dan Shalat Isya’

September 6, 2008 by n4wari

Tak terasa puasa telah memasuki hari yang keempat, Selama empat hari menjalani ibadah sholat wajib dimasjid kompleks perumahan kontrakan yang saya tempati, ada sesuatu yang saya rasa berbeda. Masjid yang sehari-harinya biasanya hanya satu shaff jamaah pada tiap kali sholat Maghrib, Isya dan Subuh, selama empat hari ini dipenuhi oleh puluhan warga bahkan sampai membludak ke luar masjid. Sungguh Ramadhan memang disambut antusias oleh umat Islam. Read the rest of this entry »

Ramadhan dan Kesederhanaan Hidup

September 6, 2008 by n4wari

Alhamdulillah pada tahun 2009 ini, kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa dibulan Ramadhan. Sesuai dengan tujuannya, perintah puasa dibulan Ramadhan memiliki esensi menahan hawa nafsu sehingga membentuk watak dan pribadi yang bertaqwa. Menahan hawa nafsu tidak hanya diwujudkan menahan lapar, haus, syahwat tetapi menahan nafsu-nafsu panca indera dan hati. Read the rest of this entry »

Golongan Yang Dinaungi Allah

September 6, 2008 by n4wari

Hadist dari Abu Hurairah yang telah disepakati Al-Bukhary & Muslim Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda: “Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya. Pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya”, yaitu: Read the rest of this entry »

Adakah Komitmen Hidup Bersama?

June 28, 2008 by n4wari

Malam ini saya menghadiri mantenan seorang teman di Graha Sabha Pramana UGM. Dalam hati saya cukup takjub sekali karena pestanya berlangsung cukup mewah dan undangan yang hadir adalah para elit birokrat. Berbagai motif dan harapan dari adanya pesta ini tentunya diusung oleh pihak penyelenggara maupun dari pihak undangan. Pihak penyelenggara mungkin berharap bahwa pernikahan mempelai mendapat ‘dukungan’ dari tamu-tamu yang diundang. Sedangkan pihak tamu yang diundang berharap mendapat ‘komitmen’ serta tetap menjalin persahabatan dan kerjasama. Nilai-nilai motiv dan harapan kedua belah pihak sebenarnya menunjukkan itikad baik, yaitu bersama-sama untuk meningkatkan kualitas hubungan, baik hubungan suami istri si manten anyar agar menjadi keluarga sakinah maupun hubungan si manten anyar dengan lingkungan sekitarnya terjalin dengan erat. Read the rest of this entry »